Total Pengunjung 154902

Industri Pengolahan

Dalam proses pengolahan bahan pangan terutama padi saat ini terdapat beberapa kendala yang dapat mengakibatkan hasil atau target yang tidak sesuai, yang diantaranya kualitas beras dan waktu. Misalnya dalam pengeringan yang dilakukan dengan cara dijemur apa bila cuaca tidak menguntungkan dapat mempenSelengkapnya

Industri Pengolahan

Dalam proses pengolahan bahan pangan terutama padi saat ini terdapat beberapa kendala yang dapat mengakibatkan hasil atau target yang tidak sesuai, yang diantaranya kualitas beras dan waktu. Misalnya dalam pengeringan yang dilakukan dengan cara dijemur apa bila cuaca tidak menguntungkan dapat mempengaruhi mutu beras dan waktu penjualan atau distribusinya dan juga beberapa kendala lainnya. Pendirian Pabrik Pengolahan Padi Modern (P3M) merupakan sebuah solusi yang dapat menangani masalah tersebut karena didukung dengan mesin pengolahan padi yang modern serta dapat menghasilkan atau menjaga mutu beras yang dihasilkan. Dengan Pengolahan Padi Modern dapat dengan pasti menjaga schedulle produksi/pengolahan padi sehingga berdampak dalam kelancaran usaha/bisnis.

Pengolahan padi menjadi beras secara prinsip, melibatkan tahapan yang sederhana yakni (i) pemisahan kotoran, (ii) pengeringan dan penyimpanan padi, (iii) pengupasan kulit (husking), (iv) penggilingan (milling), dan (v) pengemasan dan distribusi (lihat Gambar 3). Pemisahan kotoran dari padi hasil panen di sawah dilakukan karena masih banyak terbawa kotoran lain seperti jerami, daun, batang bahkan benda lain yang tidak lazim seperti batu dan pasir. Kotoran ini akan mengganggu proses pengeringan terutama penyerapan kalori dan penghambatan proses pergerakan padi pada tahapan berikutnya.  Kadar air padi hasil panen sangat bervariasi antara 18–25%, bahkan dalam beberapa kasus dapat lebih besar. Pengeringan dilakukan untuk mengurangi kadar air sampai sekitar 14% sehingga memudahkan dan mengurangi kerusakan dalam penyosohan dan proses selanjutnya. Kadar air yang terlalu tinggi menyulitkan pengupasan kulit dan menyebabkan kerusakan (pecah atau hancur) karena tekstur yang lunak.

Afflatoksin dihasilkan oleh jamur aspergillus, jamur aspergillus biasanya hidup dilingkungan yang hangat dan lembab. Suhu lingkungan 25 - 30 oC dengan kelembabab diatas 75% dan kadar air gabah berkisar antara 15 - 30% adalah tempat dimana jamur aspergilus menghasilkan afflatoksin. Persyaratan utama untuk menghasilkan beras berkualitas: Pengeringan segera setalah panen (kurang dari 10 jam setelah panen), pengeringan merata dengan suhu rendah, pengeringan dapat dilakukan secara otomatis 24jam, dan tidak terpengaruh oleh cuaca, hasil pengeringan dengan kadar air yang merata disetiapkali pengeringan, tingkat beras patah yang rendah, sehingga rendemen beras kepala yang tinggi.

Agroteknologi

Integrated farming  yaitu kegiatan produksi yang dilakukan oleh komunitas petani sesuai dengan potensi ekomomi masyarakat disuatu wilayah yang dilakukan secara integrasi yang meliputi. Pertanian, Perikanan,dan Perternakan. Usaha budidaya pertanian terintegrasi dimaksudkan juga untuk memberi tamSelengkapnya

Agroteknologi

Integrated farming  yaitu kegiatan produksi yang dilakukan oleh komunitas petani sesuai dengan potensi ekomomi masyarakat disuatu wilayah yang dilakukan secara integrasi yang meliputi. Pertanian, Perikanan,dan Perternakan. Usaha budidaya pertanian terintegrasi dimaksudkan juga untuk memberi tambahan pendapatan bagi petani dan sebagai pendukung budidaya padi yang berbasis ekologis.

            Secara umum pertanian ekologis merupakan sistem budidaya pertanian sehat yang mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya pertanian dan kearifan lokal dengan menggunakan teknologi pertanian spesifik lokasi dan berwawasan lingkungan serta meningkatkan kesejahteraan petani dengan menghasilkan produk pertanian yang sehat dan aman bagi konsumen sesuai dinamika perubahan permintaan pasar. Dijelaskan juga bahwasanya unsur-unsur sistem pertanian ekologis ini antara lain meliputi : (1) tanaman sehat ; (2) petani yang inovatif dan partisipatif ; (3) teknologi pertanian ramah lingkungan dan (4) didukung oleh kelembagaan pedesaan yang mampu melayani kebutuhan petani, memberikan jaminan harga produk yang layak disertai pembinaan kualitas dan pengawasan kualitas produk serta pelayanan yang prima.

Budidaya Padi Ekologis (BPE), pada dasarnya merupakan kegiatan usahatani padi yang dilaksanakan oleh komunitas petani dengan memperhatikan kesinambungan antar lingkungan yang mendukung pada kegiatan tersebut serta bagi lingkungan disekitarnya, sebagai dampak dari penerapan budidaya padi ekologis. Kegiatan BPE juga pada dasarnya terwujud dari keprihatinan rusaknya ekologi dan sumberdaya alam yang ada saat ini. Kontaminasi lahan akibat akumulasi penggunaan berbagai macam obat dan pupuk anorganik, semakin berkurangnya ketersediaan air akibat rusaknya sumber-sumber mata air serta terjadinya berbagai keruksakan lingkungan akibat perilaku manusia dalam pengelolaannya.

BPE juga berkembang, karena didorong oleh berbagai kondisi sosial ekonomi yang berkembang sejalan dengan proses dan tuntutan pembangunan secara keseluruhan. Meningkatnya harga pada hampir semua input produksi yang diperlukan bagi kegiatan usahatani padi, terjadinya stagnasi proses penyuluhan pertanian di tingkat lapangan/petani serta masih rendahnya nilai tukar petani yang diterima dari output usahatani yang dihasilkan, telah menjadi alternatif dan pilihan rasional bagi petani BPE untuk melakukan kegiatan usahatani tersebut.

Perkembangan selanjutnya, BPE juga didasari oleh metode Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SL-PHT) yang lebih banyak terkait dengan kesehatan lingkungan, khususnya dalam penggunaan berbagai produk pupuk dan pestisida. Konsep SL-PHT menjadi dasar penting bagaimana para petani menggunakan teknik untuk menangani hama penyakit yang biasa menyerang padi serta kesehatan lahan dan tanaman. Namun demikian yang lebih ditekankan adalah proses pembelajaran petani di lapangan sehingga lebih banyak dilakukan dengan metoda praktek lapang.

Unsur ke tiga yang sangat terkait adalah dengan penerapan metode BPE yang menekankan bagaimana kegiatan budidaya padi dilakukan dengan efisien serta menggunakan bahan dan input produksi yang ada di sekitar petani sendiri. Dalam BPE, penggunaan bibit diupayakan sangat hemat dalam satuan luas lahan tertentu, kemudian menggunakan pupuk organik dan kompos serta MOL (Mikro Organisme Lokal) untuk kesuburan tanah serta pencegahan hama penyakit dengan bahan-bahan lokal yang ada disekitar petani.

Ketiga unsur tadi menjadi dasar bagaimana sistem BPE berkembang menjadi sebuah pilihan usahatani padi yang dilakukan oleh para petani yang kemudian menjadi komunitas BPE di beberapa daerah di Indonesia. Dengan demikian, fenomena kegiatan usahatani ekologis telah menjadi bagian dari proses penerapan teknologi hemat air, PHT, teknologi ramah lingkungan, kemudian pola usahatani terpadu serta teknologi pasca panen dan pengolahan yang kesemuanya bermuara pada membangun kemandirian petani dan masyarakat perdesaan.

Pada pelaksanaan Program klaster ipt, komunitas petani dalam satu kabupaten yang terdiri dari 500-1000 ha lahan padi terbagi masing-masing kelompok 100-200 ha. Dalam satu klaster terdapat laboratorium lapang (LL) dan sekolah lapang ((SL_PTT) di masing-masing kelompok. SL-PTT padi mempunyai kurikulum, evaluasi pra dan pasca kegiatan, studi banding atau kunjungan lapang (field trip) ke laboratorium lapang klaster IPT. Tujuan utama SL-PTT adalah mempercepat alih teknologi pertanian dan mitigasi melalui pelatihan dari peneliti atau nara sumber lain. Agar tujuan dapat tercapai sesuai dengan target, SL-PTT dilaksanakan berdasarkan prinsip pendidikan pengalaman sendiri dalam mengelola usaha taninya. Materi pendidikan yang diberikan mencakup aspek yang diperlukan oleh petani dan kelompok tani di wilayah pengembangan PTT, aspek tersebut meliputi :

1. Aspek Teknologi

Petani diberikan berbagai pengetahuan dan keterampilan yang mereka butuhkan melalui pendaping untuk menjadi menejer di lahan usaha taninya sendiri, seperti produksi, analisis ambang ekonomi hama dan penyakit tanaman, analisis perubahan iklim, analisis kecukupan hara bagi tanaman dan efisiensi penggunaan air.

2.  Aspek Hubungan Antar Petani

SL-PTT mendorong petani untuk dapat bekerjasama melakukan analisis bersama-sama, diskusi, dan berkomunikasi sesama mereka dan pendamping.

3. Aspek Pengelolaan

Dalam SL-PTT petani didorong untuk pandai menganalisis masalah dan membuat keputusan tentang tindakan yang diperlukan untuk mengatasi masalah tersebut.

Pengelolaan tanaman terpadu (PTT) adalah suatu pendekatan dalam upaya peningkatan produksi melalui pengelolaan tanaman, tanah, air, hara dan organisme pengganggu tanaman (OPT) secara menyeluruh dan berkelanjutan. Secara umum pendekatan PTT dimaksudkan untuk memperbaiki cara bercocok tanam atau budidaya tanaman dengan cara mengupayakan terciptanya lingkungan tumbuh tanaman yang baik sehingga dapat diperoleh hasil tanaman yang optimal. Komponen utama pengelolaan PTT meliputi : irigasi inter miten (alternasi basah/kering), penambahan bahan organik dan bibit muda tunggal. Pendekatan yang ditempuh dalam pengembangan PTT adalah keterpaduan, partisifatif, peningkatan efisiensi penggunaan faktor produksi dan dinamis.

Pemasaran

Saluran pemasaran bahan pangan (beras) yang ada sangat ditentukan oleh sistem pola produksi yang dibangun dan karakteristik komoditi padi. Secara umum pembedaan yang mendasar terhadap fungsi tataniaga dipengaruhi oleh jumlah produksi atau suplai pada setiap musim panen. Kebanyakan petani menjual Selengkapnya

Pemasaran

Saluran pemasaran bahan pangan (beras) yang ada sangat ditentukan oleh sistem pola produksi yang dibangun dan karakteristik komoditi padi. Secara umum pembedaan yang mendasar terhadap fungsi tataniaga dipengaruhi oleh jumlah produksi atau suplai pada setiap musim panen.

Kebanyakan petani menjual gabahnya di sawah segera setelah panen (GKP). Harga yang mereka terima adalah harga kesepakatan, meskipun seringkali lebih ditentukan oleh para pedagang desa/penggilingan. Sebenarnya petani dapat menerima harga lebih tinggi seandainya mereka menjual padi mereka dalam bentuk gabah kering simpan (GKS/GKG). Namun hal ini sulit dilakukan karena mereka tidak memiliki lumbung penyimpan yang cukup luas dan lantai jemur untuk mengeringkan gabah. Selain itu, para petani didesak oleh kebutuhan uang tunai untuk keperluan konsumsi, biaya sekolah anak atau untuk melunasi kredit atau pinjaman ke tengkulak/renterner.

Kebanyakan pedagang/penggilingan memiliki hubungan yang pasti dengan pedagang tingkat kecamatan atau pedagang besar Kabupaten. Tak jarang mereka adalah kepanjangan tangan dari para pedagang besar.  Pedagang/penggilingan menyimpan stok dalam bentuk gabah dan menjual dalam bentuk beras. Kondisi ini menyebabkan mereka menghadapi resiko susut gabah yang besar yang berdampak pada tingkat jumlah beras yang diperoleh. Harga beras di penggilingan ditentukan oleh pedagang besar atau pelaku tataniaga berikutnya.

Dengan demikian penggilingan padi sama halnya dengan petani juga hanya menjadi pricetaker.  Keberadaan pedagang desa/ penggilingan sangat penting bagi petani, bukan saja sebagai tempat menjual gabah mereka, tetapi juga sebagai pusat informasi harga. Tak jarang mereka juga menyediakan kredit usahatani bagi para petani yang dilunasi setelah panen, atau dikenal dengan sistem ‘yarnen’. Sehingga hubungan yang terjadi bukan semata bersifat ekonomis tetapi juga bersifat kultural. Dalam hal pemasaran, KUD atau kelompok tani belum banyak berperan. Kebanyakan KUD atau kelompok tani yang ada masih berperan dalam teknis budidaya dan penyaluran sarana produksi pertanian.

Sementara pedagang besar tingkat Kabupaten biasanya lebih kuat posisi tawarnya dalam penentuan harga. Biasanya mereka memiliki armada angkutan yang banyak dan gudang penyimpanan sendiri, sehingga mereka bisa “mengatur” suplai di grosir/pengecer. Malah tidak jarang pedagang besar ini juga merangkap sebagai grosir. Karena kuatnya posisi tawar pedagang besar inilah seringkali dikatakan bahwa permintaan beras petani sebenarnya merupakan turunan permintaan beras pedagang besar, bukan konsumen.

Kuatnya peranan pedagang besar ini terlihat dari besarnya marjin tataniaga yang mereka peroleh. Keuntungan pelaku pemasaran gabah/beras terbesar dinikmati oleh pedagang besar, kemudian pengecer.  Keuntungan mereka berkisar antara 3,5 sampai 16,2 persen dari harga jual konsumen, padahal mereka hanya melakukan fungsi penyimpanan dan pertukaran saja. Sementara penanggung resiko terbesar yakni petani (gagal panen) dan penggilingan gabah (susut gabah, perubahan harga, rendemen) menikmati keuntungan yang kecil.

Struktur pembagian margin pemasaran yang tidak merata sesuai dengan resiko usaha tersebut menunjukkan lemahnya posisi tawar petani/penggilingan terhadap pelaku tataniaga selanjutnya. Sekaligus hal ini juga mengindikasikan adanya kecenderungan praktek oligopsoni dalam pemasaran beras. Atau dengan kata lain sistem pemasaran beras yang ada belum efisien. Struktur pasar  yang oligopsonistik juga menyebabkan terjadinya fluktuasi harga yang besar di tingkat petani, dibandingkan di pasar lainnya, apalagi di pasar konsumen. Bisa dibuktikan saat panen raya petani seringkali menerima harga di bawah harga dasar, sementara di pasar konsumen BULOG senantiasa melakukan operasi pasar setiap kali suplai beras di pasar berkurang (misalnya pada saat paceklik).

Panjangnya rantai tataniaga beras juga pada akhirnya merugikan konsumen dan produsen, karena semakin panjang rantai pemasaran akan semakin besar selisih harga yang harus dibay ar konsumen dari harga petani. Terlebih kapasitas stok pedagang besar dan pengecer yang besar membuat mereka mampu mengendalikan suplai beras dan harga pasar, terutama saat paceklik.

Dari uraian diatas terlihat jelas bahwa dalam hal pemasaran gabah pun petani menempati posisi yang paling lemah, karena hanya menjadi penerima harga (price taker). Ini tidak adil karena dari resiko usaha merekalah yang menanggung resiko terbesar.

Pelatihan

Kemampuan manusia yang sangat komplek antara keahlian dan karakter, kesiapan dan kesediaan menghadapi tantangan, ketekunan dalam memecahkan permasalahan dan kemampuan untuk bekerjasama dengan orang lain. Latihan ini bertujuan untuk merubah mindset dengan metoda yang menarik, aplikatif menghSelengkapnya

Pelatihan

Kemampuan manusia yang sangat komplek antara keahlian dan karakter, kesiapan dan kesediaan menghadapi tantangan, ketekunan dalam memecahkan permasalahan dan kemampuan untuk bekerjasama dengan orang lain. Latihan ini bertujuan untuk merubah mindset dengan metoda yang menarik, aplikatif menghibur modern serta meningkatkan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual juga kecerdasan sosial serta membangun karakter. Latihan ini mempunyai filosofi “seseorang baru akan menyadari sepenuhnya tentang siapa dirinya dan betapa berharganya orang lain manakala ia ditempatkan dalam suatu situasi dan kondisi dimana harus mengerahkan dan menguras habis segenap kemampuan dan potensi yang ia miliki

Selain perubahan mindset. Para Pendamping dan Pengelola dibekali ilmu ketrampilan yang spesifik, seperti pengelolaan LKM, Pengelolaan industri pengolahan padi, Budidaya padi berwawasan ekologi, Pengelolaan Laboratorium Lapang (LL) dan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) Penggunaan Teknologi Informasi, serta Maintenence nya.

Dengan mengikuti pelatihan ini diharapakan para Pengelola dan Pendamping serta masyarakat dampingannya siap dalam menghadapi tantangan serta terbentuk manusia yang tangguh dan mandiri.

Tujuan Pelatihan :

  1. Meningkatkan kemampuan sikap individual, seperti komitmen, motivasi dan kepercayaan diri serta kemampuan dalam rangka memenuhi kebutuhan berprestasi (need for achievment)
  2. Meningkatkan kinerja kelompok melalui peningkatan kualitas hubungan antar manusia di dalam kelompok (team building skill)
  3. Meningkatkan kemampuan seseorang pada posisi supervisor, manager ataupun top manager, seseorang tidak akan dapat memanage tanpa memimpin (leadership skill)

Teknologi Informasi

Teknologi informasi mempunyai peranan penting dalam kegiatan transaksi informasi, transaksi yang dapat dilakukan dengan perangkat telepon seluler yang memiliki tingkat mobilitas tinggi, multi-fungsi, jangkauan seluler yang luas, pengoperasionalan yang mudah, dan adanya fungsi deteksi koordinat melalSelengkapnya

Teknologi Informasi

Teknologi informasi mempunyai peranan penting dalam kegiatan transaksi informasi, transaksi yang dapat dilakukan dengan perangkat telepon seluler yang memiliki tingkat mobilitas tinggi, multi-fungsi, jangkauan seluler yang luas, pengoperasionalan yang mudah, dan adanya fungsi deteksi koordinat melalui satelit. Kemampuan akan teknologi informasi dapat dipadukan dengan kebutuhan pemantauan suatu kegiatan melalui aplikasi IPANGAN merupakan aplikasi berbasis web dan ponsel yang dilengkapi layanan berbasis lokasi (location-based service). Melalui aplikasi ini pengguna dapat memantau, memberikan informasi baik teks maupun foto, dan juga sebagai data input melalui ponsel yang langsung terkirim ke pusat data di Indonesia. Pengiriman informasi mencakup lokasi dan waktu pengiriman informasi yang ditampilkan pada peta digital melalui aplikasi web dan ponsel.

Pemantauan (monitoring), pelaporan (reporting), evaluasi (evaluating), dan pengarahan (directing) merupakan tahapan-tahapan yang menjadi elemen dasar dan sebagai sumber informasi tentang sebab dan akibat dari suatu kebijakan. Maka dari itu informasi yang dibutuhkan dalam kegiatan pemantauan harus relevan, reliable, dan valid. Agar informasi yang dibutuhkan dapat dijadikan sebagai parameter input yang tepat, informasi perlu diberikan langsung oleh obyek pemantauan. Untuk itu diperlukan adanya wadah penampungan informasi yang dapat sepenuhnya terintegrasi. Dalam kondisi ideal, informasi tersebut dapat ditampung kapanpun waktu kegiatan, dimanapun lokasi pemantauan, dan siapapun entitas yang terlibat agar dapat mendukung proses pembangunan atau pengembangan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Adopsi pendekatan teknologi ini dapat dimanfaatkan sebagai wadah penampungan informasi terintegrasi seperti halnya fungsional jejaring sosial yang dapat “melaporkan” situasi dan kondisi dengan tambahan penggunaan yang lebih spesifik, berwawasan, dan bermanfaat demi mendukung pengambangunan nasional dan pengadaan bahan pangan nasional serta tercapainya Millennium Development Goals (MDGs).

IPANGAN adalah sistem informasi (IT) yang dapat melaporkan data tertulis dari lapangan, dilengkapi data luas lokasi, alamat dan waktu, yang langsung ditampilkan di web dan peta digital. Arsitektur sistem IPANGAN dapat dilihat di Gambar 1.

Pengguna IPANGAN dibagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu:

  1. Pejabat(Presidan, Mentri, Gubenur, Bupati/Walikota,Kepala Dinas)

Pejabat, disingkat PJ, memantau laporan dari para Petugas Lapangan (PL) melalui komputer atau laptop yang terhubung melalui Internet ke Pusat Data. Bahkan, PJ dapat berada di mana saja asalkan ada koneksi Internet untuk mengakses web yang berada di Pusat Data, bahkan dari perangkat browser ponsel pun (misalnya, browser pada ponsel Nokia, Blackberry, Android, iPhone) dapat juga melakukan pemantauan langsung.

  1. Pengelola Klaster Industri Pertanian Terpadu (Klaster IPT)
  1. Membuat daftar petani/kelompok tani dan memberikan otorisasi/ hak kelola kepada Pendamping sesuai dengan kesepakatan kerja pada pengelola klaster.
  2. Memelihara serta menjaga kelancaran serta keamanan data dari penyalah gunaan wewenang para pendamping.
  3. Memperbaharui (update) index harga serta variabel lain yang tersedia agar sesuai dengan kondisi terkini.
  1. Petugas Lapangan (Pendamping dan Penyelia/AO)

PL membawa ponsel untuk mengambil foto dan mengirimkan laporan. Secara prinsip, para PL ini dapat langsung ditelpon oleh PJ, dan diminta langsung melaporkan, sambil hasil foto/video/suaranya secara online Nama lain dari proses ini adalah “sidak digital”.

Dengan adanya kemampuan ‘sidak digital’ ini, suasana transparansi dalam organisasi lebih terjamin, dari pucuk pimpinan sampai petugas lapangan di tempat terjauh sekalipun. Dalam bahasa positif, IPANGAN dapat meningkatkan kejujuran para PL. Sementara itu, jika ada penyimpangan, indikasinya dapat segera diketahui, dan tindakan perbaikan dapat segera dilaksanakan.

Lembaga Keuangan

Lembaga Keuangan Mikro dalam Program “Klaster Indutri Pertanian Terpadu” berperan sebagai pengelola keuangan bisnis yang bertujuan mendapatkan profit serta pengelola keuangan sosial yang bertujuan mendapatkan benefit. Petani yang awalnya kurang berdaya dan menerima bantuan diharapkan menSelengkapnya

Lembaga Keuangan

Lembaga Keuangan Mikro dalam Program “Klaster Indutri Pertanian Terpadu” berperan sebagai pengelola keuangan bisnis yang bertujuan mendapatkan profit serta pengelola keuangan sosial yang bertujuan mendapatkan benefit. Petani yang awalnya kurang berdaya dan menerima bantuan diharapkan menjadi pengusaha tani yang dapat membantu rekannya sesama petani, dalam permasalahan ini yaitu dapat memberikan Zakat, Infak, serta Shodaqohnya.

Kehadiran LKM dilatarbelakangi oleh :

  1. Prosedur tekhnis Bank yang sulit menyentuh lapisan usaha mikro kecil atau pengusaha ekonomi lemah (PEGEL)
  2. Kekosongan lembaga ini akhirnya dimanfaatkan oleh pelepas uang atau rentenir yang dirasakan oleh masyarakat  sangat mencekik
  3. Keinginan dan antusias masyarakat dalam menjalankan ekonomi kerakyatan sangat tinggi
  4. Kebutuhan masyarakat akan lembaga keuangan yang profesional dan amanah sebagai tulang punggung ekonomi mereka

Pengendalian sistem ini terpusat di LKM, pengendalian diawali dari proses identifikasi calon petani dan calon lahan (CPCL) oleh Pendamping/AO/PMT, penyaluran kridit modal, monitoring kegiatan produksi, dan penyaluran produksi. Kondisi ekonomi petani secara umum pendapatanya jauh dibawah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Sebagian besar petani merupakan petani penggarap, luas garapan untuk satu petani yaitu 0.2 ha. Nilai ini masih jauh dari nilai ideal yaitu 1.5 ha untuk setiap petani. Selain itu luas garapan ini juga mempengaruhi pendapatan petani setiap bulan, dimana dengan 0.2 ha petani hanya mendapat penghasilan 250 ribu rupiah per keluarga dengan beban 3 sampai 5 anggota keluarga.

Petani sangat sulit untuk mendapatkan akses dana dari perbankan / lembaga keuangan sehingga budaya ijon tumbuh subur. Petani tidak mempunyai teknologi budidaya yang baik dan pola tanam yang teratur sehingga gabah yang dihasilkan berkualitas rendah, hal ini semakin menurunkan kualitas dengan penanganan hasil panen yang kurang memadai seperti tidak adanya pengering (draying) dan milling ataupun peralatan teknologi paska panen yang lain. Petani sering mengalami kesulitan untuk memperoleh pupuk dengan tepat waktu, tepat jumlah dan harga yang sesuai dengan harga yang ditetapkan pemerintah sehingga target panen seringkali jauh dari harapan. Petani tidak mempunyai jaminan harga pasar sehingga sering kali harga gabah jatuh ketika panen raya tiba.

Kegiatan di lapangan mencerminkan adanya peningkatan pendapatan yang bisa mereka sisihkan. Kondisi ini akan semakin baik apabila LKM mampu meningkatkan harga beli ke petani dengan meningkatnya efisensi dan kualitas produk. Dengan penggunaan Pabrik Pengolahan Padi Modern (P3M) diharapkan mampu meningkatkan efiensi 20% dan dengan adanya sistem teknologi informasi akan mempercepat perputaran pengembalian uang (turn over) dari 3 bulan menjadi 7 hari setelah petani panen, dan memperpendek rantai distribusi, serta terkendalinya rantai pasok (suplay chane) sehingga tepat jumlah, tepat waktu, tepat guna. Dari sistem Teknologi Informasi di harapkan akan meningkatkan efisiensi 30%.

 

Manfaat LKM adalah :

  1. Menghindari petani dari jebakan para tengkulak
  2. Meningkatkan nilai petani, karena menempatkan petani setara dengan elemen yang lain
  3. Memberi kemudahan dalam pengaksesan pasar dan jaminan harga.
  4. Pemberian dukungan penyaluran saprodi dengan harga yang murah tepat jumlah dan waktu
  5. Menjadi lembaga kontrol atau  indikator dari kemajuan perkembangan petani/kelompok tani yang dapat dinilai dari jumlah tabungannya.