Total Pengunjung 154935
Oleh Bagus Setiawan, 2017-11-06, Dibaca 72 Kali

AGRONET - Luwarso mengobarkan Revolusi Tani? Jangan percaya dulu. Perlu lebih dulu mendengar gagasannya dan melihat sepak terjangnya secara langsung. Mungkin rasa penasaran seperti itu pula yang membuat Presiden Joko Widodo menemuinya saat berkunjung ke Sukabumi, September 2017 silam. Spanduk ’Selamat Datang Presiden Republik Indonesia Joko Widodo’ masih tergantung di penggilingan padi miliknya di Sukaraja, Sukabumi itu.

Tapi siapa sebenarnya Luwarso? Masyarakat luas belum banyak mengenalnya. Kecuali tentu warga Sukabumi, tempatnya berbisnis sejak lebih dari seperempat abad silam. Ia salah satu pebisnis beras terkemuka di sana.

Usahanya telah memberi banyak manfaat pada ribuan petani padi setempat. Itu membuatnya paham bagaimana semestinya model yang tepat buat kembangkan tani rakyat. Maka Presiden Jokowi pun datang ke tempatnya.

”Kami mengajukan konsep pada Presiden, dan beliau tertarik,” kata Luwarso dengan nada bersemangat. Bagi Luwarso, konsep itu bukan sekadar di angan-angan. Melalui i-Pangan yang dikembangkannya, ia sudah menjalankan konsep itu. Selain mampu mengangkat usahanya sendiri, juga memberi manfaat pada ribuan petani di sekitarnya. Wajar jika Presiden Jokowi, kata Luwarso lebih lanjut, memintanya untuk mengembangkan konsep itu ke seluruh Indonesia.

Sekilas konsep revolusi tani yang diusulkannya sederhana saja. Para petani dari setiap 5.000 hektar sawah diharapkan terhimpun dalam satu kesatuan sistem produksi. ”Menjadi satu klaster usaha,” kata lelaki ini. Yang perlu menjadi titik pusat klaster sistem produksi itu adalah unit pengolahan hasil produksinya.

Bukan sembarang unit pengolahan hasil yang dimaksudnya. Namun unit pengolahan yang harus sangat moderen. Juga harus benar-benar sesuai karakteristik tani di Indonesia. Itu yang sudah dibangunnya di Sukabumi. Unit semacam itulah yang menurutnya perlu dikembangkan sebagai penopang klaster-klaster untuk revolusi tani di Indonesia. Luwarso sudah menempuh jalan panjang untuk sampai ke gagasan itu.

Seperti banyak kisah sukses lain, justru kegagalan-lah yang menjadi titik awalnya. Lulus sarjana pertanian di Universitas Jenderal Sudirman, Luwarso mengaku gagal mendapatkan nilai yang baik. Tetapi justru kegagalan itu yang menjai jalan berkah baginya. ”Nilai saya cuma 2,21, mana ada perusahaan mau mempekerjakan saya,” katanya.

Ia pun hijrah ke Sukabumi untuk mengelola kebun yang terbengkalai. Sambil menunggu hasil panen tanamannya yang entah berapa bulan lagi ke depan, ia tentu harus berusaha menopang penghidupannya sendiri. Pilihannya adalah berjualan nasi goreng di kota Sukabumi. Sebagai sarjana, ia tak mau nasi gorengnya asal-asalan. Baginya, kualitas serta standar rasa, harus terjaga.

Di sinilah Luwarso menemukan masalah pertama. Kualitas beras yang diperolehnya ternyata tidak standar. Hal itu menyulitkannya menjaga rasa nasi goreng yang diiinginkannya. “Padahal saya selalu membeli jenis yang sama di tempat yang sama,” katanya. Masalah itu mendorongnya masuk ke bisnis beras. Sampai akhirnya ia berkesematan membuat usaha penggilingan padi.

Di sana, Luwarso mendapati masalah lagi. Baik dari sisi pasokan gabah, maupun dalam proses produksi. Gabah dari petani yang dikirim ke tempatnya ternyata sangat beragam. Bukan hanya jenisnya, melainkan juga kualitas gabahnya. Dari sisi pasokan, hal itu terjadi karena petani berbudidaya padi sendiri-sendiri dan juga memiliki kapasitas diri yang sangat beragam. Akibatnya gabah yang diproduksinya juga sangat beragam.

Hal tersebut tak menjadi masalah bila unit usaha Luwarso itu hanya berupa jasa penggilingan. Tetapi ia adalah pengusaha beras. Ia perlu menjaga standar kualitas beras yang dijualnya. Antara lain dengan mengelola pasokan dari petani. Untuk itu, mau tidak mau ia harus berkeliling mengunjungi petani demi petani. Ikut menyuluh bagaimana berbudidaya padi secara baik.

Hasilnya mulai meningkat. ”Kualitas gabah dari petani sekarang sudah jauh lebih baik,” kata Luwarso. Setidaknya ia menilai berdasar gabah petani yang dijual ke tempatnya. Meskipun demikian, ketidakstandaran kualitas itu sedikit banyak masih terjadi. Bahkan dalam hal yang elementer seperti kadar air, hingga tingkat kekotoran. Maka Luwarso merancang mesin pengering khusus dengan blower-nya untuk menstadarkan kualitas gabah itu sebelum dapat diproduksi menjadi beras.

Tantangan teknis lain kemudian menunggu. Setelah memiliki usaha penggilingan itu ia baru menyadari bahwa beras di Indonesia memiliki bentuk khusus. ”Tidak pipih seperti beras Basmati, dan tidak pepat seperti beras Jepang,” kata Luwarso. Beras Indonesia, menurutnya cenderung lonjong dengan bagian tengahnya membulat.

Celakanya, tidak ada mesin penggilingan di dunia yang dirancang sesuai karakter khusus beras Indonesia tersebut. Mesin-mesin yang dipasarkan di dunia adalah mesin untuk karakteristik beras Basmati maupun beras Jepang. Untuk beras Indonesia, tingkat ketidakefisienannya menjadi tinggi. Baik karena menimbulkan lebih banyak pecah, juga makan waktu lebih lama. Modifikasi mesin sungguh diperlukan.

Penentuan mesin produksi beras yang tepat itupun masih harus dipadukan dengan sistem Teknologi Informasi. Sistem yang membuat seluruh proses terdata dengan baik. Mulai dari petani pemasoknya, informasi tentang produksi, hingga tahap pengolahannya. Itu yang menjelaskan mengapa Luwarso dapat memasang ’QR Code’ dalam kemasan beras yang dijualnya. ”Dengan QR Code ini, kita bahkan bisa tahu siapa petani yang menanamnya.” Itu dari sisi produsen.

Pada saat yang sama sisi konsumen juga harus digarap. Antara menyangkut selera masyarakat tentang beras. Menurutnya, di Indonesia terdapat puluhan selera yang berbeda soal beras. Selera-selera tersebut perlu dikenali secara mendalam. Misalnya,orang Minang cenderung lebih suka beras yang kesat. Sedangkan orang Jawa lebih suka yang pulen.

Untuk usaha yang dikembangkannya, Luwarso mengakomodasi perbedaan selera tersebut. Untuk itu, ia mengembangkan label berbeda untuk beras kemasan bermerek Caping Gunung yang diproduksinya. Mulai dari kemasan label hijau, biru, merah, hitam dan emas menyerupai label pangan lain di negara maju. Tentu saja ia juga memproduksi beras khusus berupa beras organik, beras merah dan beras hitam bagi konsumennya.

Pengenalan beras menyeluruh mulai dari aspek produksi, pengolahan, hingga pemasaran seperti itu diperlukan buat menggerakkan Revolusi Tani. Untuk menguatkan penguasaannya pada beras, Luwarso sempat tinggal selama dua tahun di Taiwan. Ia juga mengunjungi sentra-sentra padi di berbagai negara Thailand, Korea, China, dan Jepang.

Tak cukup dengan itu, ia sempat magang tiga tahun pada pengusaha beras terbesar di Indonesia. ”Saya membantu semua urusan tanpa bayaran,” katanya. Hal itu membuatnya makin memahami seluk beluk perberasan di Indonesia. Khususnya dalam aspek pasar. Luwarso secara khusus juga mendalami ilmu transgenik di Australia yang akan membantu pengembangan pemuliaan padi.

Semua langkah tersebut menjadi modal baginya buat mematangkan konsep Revolusi Tani yang dikobarkannya. Yakni sistem pertanian rakyat terpadu secara moderen, mulai dari produksi, pengolahan, pemasaran, hingga pengembangannya di masa depan. Untuk konsep tersebut, ia memformatnya dalam satu kesatuan BUMR, atau Badan Usaha Milik Rakyat.

BUMR inilah yang harus terhubung langsung dengan himpunan konsumen. Untuk konteks usaha sendiri sebagai perintisan, pihaknya berhubungan dengan himpunan Warung Tegal di Jabotabek. Hampir seluruh beras untuk Warung Tegal di Bekasi, misalnya, dipasok oleh sentra penggilingan padi milik Luwarso. Klaster-klaster BUMR yang dikembangkan nanti tentu perlu mampu membangun skema kerja sama pemasaran semacam itu pula.

Begitu pula dengan lembaga keuangan. Klaster model yang dikembangkan Luwarso juga ditopang oleh Koperasi Barokah sebagai lembaga keuangannya. Koperasi inilah yang kini dijadikan model pembiayaan oleh Bank Syariah Mandiri. Juga menjadi pintu masuk untuk bekerja sama dengan bank-bank lainnya. Dukungan lembaga keuangan seperti itu, disebut Luwarso, sungguh diperlukan dalam Revolusi Tani berbasis BUMR tersebut.

Konsep Revolusi Tani yang diusung Luwarso tersebut tampak masuk akal dalam pandangan Presiden Joko Widodo. Maka Luwarso pun dimintan membantu mengembangkan 65 klaster seperti di Jawa pada tahun 2018 mendatang.

Selanjutnya baru dikembangkan di seluruh Indonesia. ”Kalau produksi dari klaster-klaster BUMR ini sudah mencapai 2,5 juta ton setahun, perberasan di Indonesia akan aman,” kata Luwarso. Bukan hanya dalam soal kuantitas, melainkan juga kualitas. Hal itu tentu akan sangat berpengaruh pada tingkat kesejahteraan petani beras yang saat ini dalam kondisi sulit.

Tidak mudah tentu mewujudkan gagasan besar Revolusi Tani tersebut. Apalagi pada ekosistem pertanian rakyat saat ini yang telah telanjur rusak. Gerakan Revolusi Hijau di tahun 1970-an lampau memang sempat menghasilkan kejayaan pertanian masyarakat. Namun masa itu sudah lama berlalu, dan malah menyisakan akibat berat pada pertanahan yang rusak oleh pemupukan kimia selama ini.

Saatnya untuk membuat terobosan baru bagi pertanian rakyat yang kebih berkelanjutan. Konsep klaster BUMR dari Sukabumi itu memiliki karakter seperti itu. Luwarso sendiri punya ketekunan, pengalaman, dan semangat untuk mewujudkan gagasannya. Semua itu menjadi modal Luwarso kobarkan Revolusi Tani menggantikan Revolusi Hijau yang sudah berlalu. (312)

Sumber : agronet.co.id


comments powered by Disqus