Total Pengunjung 154909
Oleh Bagus Setiawan, 2015-09-25, Dibaca 598 Kali

Pemerintahan Jokowi-JK tampaknya ingin menunjukkan keseriusan untuk mewujudkan swasembada pangan di Indonesia. Program bantuan dan pengawasan yang dilakukan pemerintah tidak tanggung-tanggung. Semua terlibat. Bahkan TNI pun diberdayakan untuk ikut memantau jalannya program pemerintah. Mahasiswa dan alumni dari berbagai perguruan tinggi dilibatkan di seluruh wilayah Indonesia lewat program pendampingan.

Bantuan apa saja yang sudah mengalir ke petani? Untuk upaya khusus swasembada pangan, pemerintah menggelontorkan begitu banyak bantuan, mulai alat mesin dan produksi tanaman (Alsintan), pengembangan jaringan irigasi tersier, benih unggul, dan pupuk. Dan semuanya sudah sampai ke petani. Apakah tepat waktu, tepat sasaran sesuai dengan yang diharapkan?

Bantuan alsintan, berupa mesin pompa air, Hand Tractor, Rice Transplanter, Mini Combine Harvester, Power Threser, Vertical Dryer, dan Rice Milling Unit (RMU). Untuk bantuan dari Kementerian Pertanian (kementan) sudah turun sejak Mei 2015. Selain dari kementan, bantuan yang bertujuan untuk menunjang Upaya Khusus juga diberikan oleh pemerintah propinxi dan pemerintah kabupaten. Untuk wilayah Madura sendiri, khususnya kabupaten Sumenep, yang saya tahu seluruh bantuan dari Kementan sudah turun, termasuk bantuan benih dan pupuk.

Tepat sasaran atau tidak…secara umum tepat sasaran meskipun ada lah..kasus tidak masuk daftar penerima bantuan tiba-tiba dapat bantuan. Ada juga bantuan berlabel ‘Aspirasi’. Bantuan berlabel aspirasi ini tidak lain adalah bantuan yang diajukan oleh anggota dewan. Apa bedanya dengan bantuan yang bukan aspirasi? Prosedur dan pengawasannya. Kalau bantuan yang bukan aspirasi biasanya diusulkan dari petani melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) di tingkat kecamatan baru ke Dinas di tingkat kabupaten dst. Kalau aspirasi tentu saja tidak perlu melalui mekanisme seperti itu. Langsung potong kompas ke Dinas tingkat kabupaten atau yang lebih tinggi. Setelah alat diterima, bantuan berlabel aspirasi cenderung tidak diusik keberadaannya.

Bantuan untuk pengembangan jaringan irigasi tersier sepenuhnya dilaksanakan oleh kelompok tani atau himpunan petani pemakai air (HIPPA). Dana 50 juta rupiah per jaringan irigasi langsung ditransfer ke rekening kelompok tani dalam 3 tahap dalam waktu kurang lebih 1-2 bulan (April-Juni 2015). Pemerintah dalam hal ini UPT Pertanian di tingkat kecamatan hanya membantu administrasi dan pengawasan pelaksanaan program. Cara seperti ini relatif lebih cepat dan minim penyelewengan (setidaknya yang ada di wilayah tempat saya bertugas).

Bantuan benih padi-jagung dan pupuk…Nah ini yang agak disayangkan…Why? Karena…bantuan yang diharapkan turun sejak Maret-April 2015 ternyata baru turun mulai akhir Juli 2015. Lahan-lahan yang sudah disediakan untuk bantuan benih padi dan jagung pada bulan Agustus tentu saja sudah ditanami komoditi musiman sesuai tradisi masyarakat Madura, tembakau. Selain itu faktor musim juga sudah tidak mendukung benih bantuan Kementan langsung ditanam.


Bantuan alsintan mini combine harvester (dok.pri)

Distribusi Bantuan Pupuk di kecamatan Ambunten kabupaten Sumenep-Madura (dok.pri)
Benih dan pupuk akhirnya harus menunggu waktu tanam tiba. Sebagian benih jagung memang sudah ditanam oleh petani yang lahannya dirasa cukup memadai pengairannya. Tapi petani tetap diwanti-wanti untuk merawatnya sampai jagung bisa dipanen. Karena menanam jagung di musim kemarau lebih sering dipanen daunnya untuk pakan ternak (sapi). Apalagi sapi-sapi di Madura umumnya sapi dengan perawatan spesial untuk sapi kerapan. Memanen daun jagung lebih menguntungkan, 1 hektar bisa laku puluhan juta dalam waktu 1,5-2 bulan saja, tidak perlu melakukan perawatan dan menunggu waktu panen. Tapi ya..semoga petani tidak melakukannya.

Demikian juga dengan bantuan pupuk. Pupuk urea dan NPK yang sudah diterima petani harus menunggu musim tanam tiba. Pupuk itu untuk menunjang penanaman benih bantuan. Kerawanannya adalah pupuk dipakai untuk keperluan diluar Upsus. Mengingat musim tanam padi dan jagung baru akan dimulai pada bulan Oktober-Desember 2015. Tapi ya lagi-lagi semua tergantung kepada petani dan petugas yang mengawal penggunaan bantuan.

Berton-ton benih dan pupuk sudah digelontorkan ke daerah…ribuan alsintan sudah disalurkan ke petani…milyaran rupiah sudah dicairkan untuk membantu petani… Kurang Apalagi? Ya..permasalahan di petani memang bukan hanya sekedar itu solusinya. Tata niaga beras dan komoditi pangan lainnya perlu dibenahi agar keberadaan persediaan pangan di tingkat bawah (setidaknya) bisa terdata dengan baik sehingga tidak mudah bagi pemerintah untuk membuka kran impor karena datanya seolah-olah persediaan pangan kita kurang.

Selamat Hari Tani Nasional 2015

Sumber : kompasiana.com


comments powered by Disqus